Selasa, 17 Januari 2017

Cerpen

CERMIN
       Sibuknya perkotaan mengusik kenyamanan Elis. Dengan pelan Elismembuka mata dan bergegas memfokuskan pandangannya kearah jarum weker yang seolah-olah menyanyi untuk membangunkannya. Tampaklah sicantik dengan sayup menyapa untuk memancarkan cahayanya. Perlahan, Elis berjalan dengan kaki telanjang diatas lantai penuh dengan pecahan gelas menujusebuah ruangan kecil, yang bau dan pengapsatu persatu dilucutinya baju hingga pada suatu benda ia berpaling dan mentap bayangnya sendiri dengan penuh perasaan.Hingga tiga jam berlalu, ia masih terdiam sampai timbul tanda biru dibibir.
      "Siapakah aku?" kata Elis dengan nada rendah.
      Tak lama dari itu pikirannya memecah keheningan ruangan pengap itu. Dua bulan bukanlah hal yang nyaman yang pernah ia lalui 30 tahun yang lalu.Tiga jam berlalu Elis masih berdiri didepan cermin dengan terus menatap wajahnya. Pikirannya tak menentu dan lari kemana mana.Ketika Elis mencoba memejamkan mata tiba-tiba seorang dokter menghampirinya."
      Apakah keputusanmu sudah bulat?" kata seorang dokter.
     “Ya, ini adalah pilihanku untuk bahagia dan untuk menjadi cantik". Kata Elis dengan nada tegas.
      Dengan penuh semangat sambil memalingkan wajahnya pada sebuah cermin miniDua jam berlalu, masih saja melihat bayangannya sendiri disebuah cermin. Kain hijau terlihat disekeliling tempat tidurnya yang hanya berkisar 2x1 m. Suasana kian sunyi sampai sibuknya kendaraan kota tak mampu mengalahkan pandangannya pada cermin mini itu."Kau sudah siap?" salah seorang dokter bertanya meyakinkan. Elis hanya memberikan senyuman kecil yang berarti sepakatElis berbaring dengan diiringi 4 roda yang membawanya kedalam sebuah ruangan besar dipenuhi alat medis dan mesin-mesin disetiap sudutperasaan Elis kian berkecamuk. Senang, takut, tegang sampai gelisah tak mampu ia bendung. Benda tajam adalah musuh yang paling menakutkan untuknya.Tetapi menjadi cantik adalah sebuah pilihan dan mimpi terbesar dalam hidupnya.Tuk- tuk. Suara sepatu terdengar mendekat. Hingga ia melihat seseorang berpakaian hijau dengan membawa jarum suntik dan memberikan senyuman pada Elis.Dua belas jam berlalu, Elis belum bisa merasakan apa-apa. Beberapa saat kemudianElis terbangun dan bergegas membuka mata. Dengan sangat hati-hati Elis meraba wajahnya terutama bagian hidung.
       “Ambilkan  aku  cermin!" kata Elis dengan lantang.
       Dan seseorang memberikannya cermin mini persegi empat."Mataku, hidungku, bibirku. Oh, betapa cantiknya parasku". Ungkap Elis dengan senyuman puas diwajahnya.Gemer cikair keran mengembalikan pikiranya pada sebuah ruangan pengap dan bau. Suara kendaraan kian bising mentari kian brani tetapi Elis merasakan batinnya penuh dengan meriam yang setiap saat akan melumpuhkannya.Bangunan tua dengan hiasan kuno di situlah Elis tinggal.Perlahan Elis mengayunkan kakinya menuju pada sebuah sudut jalan terlihat ada rumah dengan arsitek modern. Setiap pagi Elis memperhatikan keluarga kecil bahagia itu. Bermainan ayunan dipohon besar dan berlari dengan aroma taman yang membuatnyairiAda sosok papa pulang kerja membawakanya mainan, ada sosok mama yang selalu memberikan nasehat.
        “Jadilah jagoan mama!" ucapan mamanya dengan diberi bonus ciuman untuk membuatnya lebih semangat.Elis sangat merindukan masa kecilnya, saat bermain robot, saat bermain bola. Tetapi sangat jauh berbeda dengan keadaan sekarang. Ia menghabiskan waktunya hanya terbaring dengan selimut kumuhnya dan bau. Bahkan berjalanpun harus menggunakan tongkat. Ia tak dapat merasakan enaknya makanan yang selama ini ia makan. Tak bisamencium apa yang ia hirup. Saat ini ia hanya bisa menikmati kesendirian dengan kondisi kulit yang keriput, hidungnya yang mengecil dan wajah yang membusuk. Tak ada orang yang menemani kesendiriannya, tak ada seorang anak yang merawatnya disaat sakit, suaminya meninggalkan Elis karena ia tak bisamemberikan keturunan bahkan kerabatnyapun tak pernah menerimanya menjadi seorangtransgender dan sejak saat itulah ia mengasingkan hidupnya jauh dari orang-orang terdekat. Hidupnya sangat memprihatinkan sedangkan penyesalan saat ini tak ada gunanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar